PEREKONOMIAN INDONESIA
Nama : Alya Putri Puspasari
NPM : 20214920
Kelas : 1 EB34
BAB 1
SISTEM EKONOMI INDONESIA
1.1 Pengertian
Sistem Ekonomi
Sistem perekonomian adalah
sistem yang digunakan oleh suatu negara untuk mengalokasikan sumber daya yang
dimilikinya baik kepada individu maupun organisasi di negara tersebut.
Perbedaan mendasar antara sebuah sistem ekonomi dengan sistem ekonomi lainnya
adalah bagaimana cara sistem itu mengatur faktor produksinya. Dalam beberapa
sistem, seorang individu boleh memiliki semua faktor produksi.Sementara dalam
sistem lainnya, semua faktor tersebut di pegang oleh pemerintah.Kebanyakan
sistem ekonomi di dunia berada di antara dua sistem ekstrim tersebut.
Selain faktor produksi, sistem ekonomi
juga dapat dibedakan dari cara sistem tersebut mengatur produksi dan alokasi.
Sebuah perekonomian terencana (planned
economies) memberikan
hak kepada pemerintah untuk mengatur faktor-faktor produksi dan alokasi hasil
produksi.Sementara pada perekonomian pasar (market economic),
pasar lah yang mengatur faktor-faktor produksi dan alokasi barang dan jasa
melalui penawaran dan permintaan.
1.2 Sistem
Ekonomi & Sistem Politik
Sistem ekonomi adalah suatu system yang mengatur
serta menjalin hubungan ekonomi antarmanusia dengan seperangkat kelembagaan,
dalam suatu tatanan kehidupan. Sistem ekonomi terdiri atas unsure-unsur manusia
sebagai subjek dan barang-barang ekonomi sebagai objek, serta seperangkat
kelembagaan yang mengatur dan menjalinnya dalam kegiatan berekonomi.
Suatu system ekonomi tidaklah
berdiri sendiri. Ia berkaitan dengan falsafah,pandangan dan pola hidup masyarakat
tempatnya berpijak. Sebagai bagian dari suprasistem kehidupan, system ekonomi
berkaitan erat dengan system-sistem social lain yang berlangsung di dalam
masyarakat. Terdapat kecenderungan umum bahwa setiap ekonomi di sebuah negara “
berandengan tangan “ dengan system politik di egara bersangkutan, ideology
ekonomi berjalan seiring dengan ideology politik.
Sistem
ekonomi suatu negara dikatakan bersifat khas, sehigga bisa dibedakan dari
system ekonomi yang berlaku atau diterapkan dinegara lain, berdasarkan beberapa
sudut tinjauan seperti :
a. Sistem pemilikan sumber daya atau
factor-faktor produksi.
b. Keleluasaan masyarakat untuk saling
berkompetisi satu sama lain dan untuk menerima imbalan atas pretasi kerjanya.
c. Kadar peranan pemerintah dalam mengatur,
mengarahkan, dan merencanakan kehidupan bisnis dan perekonomian pada umumnya.
1.3 Kapitalisme & Sosialisme
Dikenal dua macam system ekonomi yang
ekstrem, system ekonomi kapitalis dan system ekonomi sosialis.
Ø Sistem ekonomi kapitalis mengakui kepemilikan individual atas
sumber daya ekonomi atau factor-faktor produksi. Terdapat keleluasaan yang
sangat longgar bagi perorangan dalam atau untuk memenuhi kebutuhan hidup,
persaingan antrabadan usaha dalam mengejar keuntungan sangatlah dihargai. Tidak
terdapat kekangan atau batasan bagi orang perorangan dalam menerima imbalan
atas prestos kerjanya. Campur tangan pemerintah atau negara sangatlah minim.
Pemerintah lebih berkedudukan sebagai “pengamat” dan :pelindung” perekonomian.
Contoh negra yang menganut system ekonomi ini adalan Amerika Serikat.
Ø Sistem sosialis adalah kebalikannya. Sumber daya
ekonomi atau factor produksi diklaim sebagai milik negara. Menekankan pada
kebersamaan masyarakat dalam menjalankan dan memajukan perekonomian. Imbalan yang
diterimakan pada perorangan didasarkan pada kebutuhannya. Kadar campur tangan
pemerintah sangat tinggi. Pemerintahlah yang menentukan dan merencanakan tiga
persoalan pokok ekonomi ( what, how, for whom ). Contoh negara yang menganut
system ekonomi ini adalah Uni Sovyet ( sebelum negara ini bubar ).
Diantara kedua ekstrem system ekonomi
tersebut, terdapat system lain yang merupakan “ campuran “ antara keduanya. Sistem
ekonomi campuran diterapkan oleh negara-negara berkembang atau
negara-negara Dunia Ketiga. Dalam system ni, kadar kapitalismenya selalu lebih
tinggi atau bobot sosialismenya senantiasa lebih besar.
1.4
Persaingan
terkendali
Untuk mengetahui sistem ekonomi yang dianut
oleh suatu negara, maka perlu dianalisis kandungan faktor-faktor tersebut
diatas. Sistem ekonomi Indonesia (sistem persaingan terkendali);
1.5 Kadar Kapitalisme dan Sosialisme
Unsur
kapitalisme dan sosialisme yang ada dalam sistem ekonomi Indonesia dapat
dilihat dari sudut berikut ini:
a.
Pendekatan faktual
struktural yakni menelaah peranan pemerintah dalam perekonomian
Pendekatan untuk mengukur kadar campur tangan pemerintah
menggunakan kesamaan Agregat Keynesian.
Y =
C + I + G + (X-M)
Diamana :
Y = Pendapatan Nasional,
C = konsumsi,
I = investasi,
G = pengeluaran konsumsi pemerintah,
X = ekspor,
M = impor.
Berdasarkan humus tersebut dapat dilihat peranan
pemerintah melalui variable G (pengeluaran pemerintah) dan I (investasi yang
dilakukan oleh pemerintah) serta (X-M) yang dilakukan oleh pemerintah. Pengukuran kadar pemerintah juga dapat dilihat dari
peranan pemerintah secara sektoral terutama dalam pengaturan bisnis dan
penentuan harga. Pemerintah hampir mengatur bisnis dan harga untuk setiap
sector usaha.
a.
Pendekatan sejarah yakni
menelusuri pengorganisasian perekonomian Indoensia dari waktu ke waktu.
Berdasarkan sejarah, Indonesia dalam pengeloaan ekonomi
tidak pernah terlalu berat kepada kapitalisme atau sosialisme.Percobaan untuk mengikuti sistem kapitalis yang
dilakukan oleh berbagai kabinet menghasilkan keterpurukan ekonomi hinggá akhir
tahun 1959. Percobaan untuk mengikuti sistem sosialis yang
dilakukan oleh Presiden I menghasilkan keterpurukan ekonomi hiinggá akhir tahun
1965.
Berdasarkan humus tersebut dapat dilihat peranan
pemerintah melalui variable G (pengeluaran pemerintah) dan I (investasi yang
dilakukan oleh pemerintah) serta (X-M) yang dilakukan oleh pemerintah. Pengukuran kadar pemerintah juga dapat dilihat dari
peranan pemerintah secara sektoral terutama dalam pengaturan bisnis dan
penentuan harga. Pemerintah hampir mengatur bisnis dan harga untuk setiap
sector usaha.
a. b. Pendekatan sejarah yakni
menelusuri pengorganisasian perekonomian Indoensia dari waktu ke waktu.
Berdasarkan sejarah, Indonesia dalam pengeloaan ekonomi
tidak pernah terlalu berat kepada kapitalisme atau sosialisme.Percobaan untuk mengikuti sistem kapitalis yang
dilakukan oleh berbagai kabinet menghasilkan keterpurukan ekonomi hinggá akhir
tahun 1959. Percobaan untuk mengikuti sistem sosialis yang
dilakukan oleh Presiden I menghasilkan keterpurukan ekonomi hiinggá akhir tahun
1965.
BAB 2
SEJARAH EKONOMI INDONESIA
2.1 Sejarah Para Kolonialisme
Sebelum Tahun 1600 dinamika perekonomian Indonesia pada
masa sebelum penjajahan dimulai dari jaman pra-sejarah sampai dengan masuknya
kolonialisme di Indonesia. Atas dasar hal itu, maka dinamika perekonomian
Indonesia sejalan dengan perkembangan kehidupan bangsa Indonesia yang
diwujudkan melalui keberadaan kerajaan yang ada di nusantara. Posisi gografis
dimana pusat kerajaan berada beragam dan berakibat pada keragaman corak
aktivitas perekonomiannya.
Kerajaan Kutai terletak pada jalur
perdagangan dan pelayaran antara Barat dan Timur, maka aktivitas perdagangan
menjadi mata pencaharian utama, sehingga rakyat Kutai sudah mengenal
perdagangan internasional. Kerajaan Tarumanegara berada di daerah agraris
sehingga kehidupan perekonomian masyarakat Tarumanegara adalah pertanian dan
peternakan. Kerajaan Sriwijaya berada di pesisir utara Pulau Sumatera dan
berada pada urat nadi perdagangan di Asia Tenggara, sehingga masyarakat
Sriwijaya menguasai perdagangan.
Kerajaan Mataram berada bagian tengah
Pulau Jawa, posisi ini membuat masyarakat Mataram bertumpu pada sektor
pertanian. Kehidupan ekonomi masyarakat pada jaman Kerajaan Singasari berbasis
pada pertanian, pelayaran, dan perdagangan. Kerajaan Majapahit dekat dengan
pertanian, maka kehidupan ekonomi masyarakat Majapahit hidup dari pertanian dan
perdagangan.Singkatnya, dalam masa sebelum penjajahan, perekonomian Indonesia
bertumpu pada sector pertanian dan perdagangan.
2.2
Sistem Ekonomi Kapitalisme Liberal
Jika
dilihat dari sejarah tentang sistem
perekonomian liberal ini, maka dapat dibagi menjadi dua tahapan,
yaitu sistem perekomian liberal kapitalis awal (yang disebut juga sistem
liberal klasik) dan juga sistem perekonomian liberal kapitalis modern. Berikut
penjelasannya.
1.
Sistem Perekonomian Liberal Kapitalis Awal / Klasik
Sistem perekonomian liberal kapitalis
awal ini diterapkan disekitar abad ke 17 hingga sampai pada abat ke 20 yang
mana di saat itu setiap individu atau swasta memiliki hak kebebasan menguasai
sumber daya dan juga kebebasan menguasai perekonomian tanpa adanya interfensi dari pihak
pemerintah dalam rangka pencapaian kepentingan individu masing–masing.
Hingga
hal ini mengakibatkan munculnya berbagai efek negatif seperti eksploitasi buruh
dan penguasan terhadap kekuatan ekonomi. Namun untuk saat ini sistem
perekonomian liberal kapitalis awal ini sudah tidak diterapkan lagi.
2.
Sistem Perekonomian Liberal Kapitalis Modern
Nah, sistem perekonomian liberal
kapitalis modern ini adalah hasil penyempurnaan dari sistem perekonomian liberal kapitalis awal yang telah
dijelaskan di atas. Penyempurnaan pada sistem ini lebih kepada pemberian hak
pada pemerintah untuk turut mengatur dan turut mengelola perekonomian karena
memang peranan pemerintah dalam sistem perekonomian liberal ini sangat penting
guna pengawasan terhadap segala kegiatan perekonomian.
2.3
Era Pendudukan Jepang
Konstelasi peta politik pada masa
perang dunia II nampaknya berimbas pada konstelasi politik di Indonesia, durasi
penjajahan Jepang di Indonesia tidak berlangsung lama, karena hanya berjalan
hingga sekitar tahun 1945. Secara besar penjahan Jepang di Indonesia diawali
pasa bulan juni 1942. Bulan Maret 1945 Jepang membentuk Badan Penyelidik Usaha
Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Pertemuan pertamanya pada bulan Mei,
Soepomo membicarakan integrasi nasional dan melawan individualisme perorangan.
Pada 9 Agustus 1945 Soekarno, Hatta dan radjiman Widioningrat diterbangkan ke
Vietnam untuk bertemu Marsekal Terauchi.
Kebijakan
ekonomi pada jaman penjajahan Jepang, terdiri atas :
1. Perluasan Areal Persawahan
2. Pengawasan Pertanian Dan Perkebunan.
Perluasan areal persawahan guna
meningkatkan produksi beras. Meskipun demikian produksi pangan antara tahun
1941-1944 terus-menurun. Pada jaman Jepang hasil pertanian diatur sebagai
berikut: 40% untuk petani, 30% harus dijual kepada pemerintah Jepang dengan
harga yang sangat murah, dan 305 harus diserahkan ke lumbung desa. Badan yang
menanganimasalah pelanggaran disebut Kempetei (Korps Polisi Militer), suatu
badan yang sangat ditakuti rakyat. Jepang mengizinkan dua jenis tanaman
perkebunan yaitu karet dan kina kedua jenis tanaman itu berhubungan langsung
dengan kepentingan perang. Sedangkau tembakau, teh, kopi harus dihetikan
penanamannya Karena hanya berhubungan dengan kenikmatan. Jepang menduduki
Indonesia hanya tiga tahun setengah, sedangkan Belanda menjajah Indonesia
selama tiga abad
2.4
Ekonomi Indonesia Setiap Periode Pemerintahan ORLA,ORBA & Reformasi
A. ORDE LAMA

Keadaan ekonomi dan keuangan pada masa awal kemerdekaan amat buruk, antara lain disebabkan oleh :
Inflasi yang sangat tinggi yang dikarenakan beredarnya lebih dari satu mata uang secara tidak terkendali. Pada waktu itu, untuk sementara waktu pemerintah RI menyatakan tiga mata uang yang berlaku di wilayah RI, yaitu mata uang De Javasche Bank, mata uang pemerintah Hindia Belanda, dan mata uang pendudukan Jepang.
Kemudian
pada tanggal 6 Maret 1946, Panglima AFNEI (Allied Forces for Netherlands East
Indies/pasukan sekutu) mengumumkan berlakunya uang NICA di daerah-daerah yang
dikuasai sekutu. Pada bulan Oktober 1946, pemerintah RI juga mengeluarkan uang
kertas baru, yaitu ORI (Oeang Republik Indonesia) sebagai pengganti uang
Jepang. Berdasarkan teori moneter, banyaknya jumlah uang yang beredar
mempengaruhi kenaikan tingkat harga. Adanya blokade ekonomi oleh Belanda sejak
bulan November 1945 untuk menutup pintu perdagangan luar negeri RI.
Usaha-usaha
yang dilakukan untuk mengatasi kesulitan-kesulitan ekonomi, antara lain :
§ Program Pinjaman Nasional dilaksanakan
oleh menteri keuangan Ir. Surachman dengan persetujuan BP-KNIP, dilakukan pada
bulan Juli 1946.
§ Upaya menembus blokade dengan
diplomasi beras ke India, mangadakan kontak dengan perusahaan swasta Amerika,
dan menembus blokade Belanda di Sumatera dengan tujuan ke Singapura dan
Malaysia.
§ Konferensi Ekonomi Februari 1946
dengan tujuan untuk memperoleh kesepakatan yang bulat dalam menanggulangi
masalah-masalah ekonomi yang mendesak, yaitu : masalah produksi dan distribusi
makanan, masalah sandang, serta status dan administrasi perkebunan-perkebunan.
§ Pembentukan Planning Board (Badan
Perancang Ekonomi) 19 Januari 1947
§ Rekonstruksi dan Rasionalisasi
Angkatan Perang (Rera) 1948, mengalihkan tenaga bekas angkatan perang ke
bidang-bidang produktif.
§ Kasimo Plan yang intinya mengenai usaha swasembada pangan dengan beberapa petunjuk pelaksanaan yang praktis. Dengan swasembada pangan, diharapkan perekonomian akan membaik (Mazhab Fisiokrat : sektor pertanian merupakan sumber kekayaan).
§ Kasimo Plan yang intinya mengenai usaha swasembada pangan dengan beberapa petunjuk pelaksanaan yang praktis. Dengan swasembada pangan, diharapkan perekonomian akan membaik (Mazhab Fisiokrat : sektor pertanian merupakan sumber kekayaan).
Masa
ini disebut masa liberal, karena dalam politik maupun sistem ekonominya
menggunakan prinsip-prinsip liberal. Perekonomian diserahkan pada pasar sesuai
teori-teori mazhab klasik yang menyatakan laissez faire laissez passer. Padahal
pengusaha pribumi masih lemah dan belum bisa bersaing dengan pengusaha
nonpribumi, terutama pengusaha Cina. Pada akhirnya sistem ini hanya memperburuk
kondisi perekonomian Indonesia yang baru merdeka.
Usaha-usaha
yang dilakukan untuk mengatasi masalah ekonomi, antara lain :
§ Gunting Syarifuddin, yaitu pemotongan
nilai uang (sanering) 20 Maret 1950, untuk mengurangi jumlah uang yang beredar
agar tingkat harga turun.
§ Program Benteng (Kabinet Natsir),
yaitu upaya menumbuhkan wiraswastawan pribumi dan mendorong importir nasional
agar bisa bersaing dengan perusahaan impor asing dengan membatasi impor barang
tertentu dan memberikan lisensi impornya hanya pada importir pribumi serta
memberikan kredit pada perusahaan-perusahaan pribumi agar nantinya dapat
berpartisipasi dalam perkembangan ekonomi nasional. Namun usaha ini gagal,
karena sifat pengusaha pribumi yang cenderung konsumtif dan tak bisa bersaing
dengan pengusaha non-pribumi.
§ Nasionalisasi De Javasche Bank menjadi
Bank Indonesia pada 15 Desember 1951 lewat UU no.24 th 1951 dengan fungsi
sebagai bank sentral dan bank sirkulasi.
§ Sistem ekonomi Ali-Baba (kabinet Ali
Sastroamijoyo I) yang diprakarsai Mr. Iskak Cokrohadisuryo, yaitu penggalangan
kerjasama antara pengusaha cina dan pengusaha pribumi. Pengusaha non-pribumi
diwajibkan memberikan latihan-latihan pada pengusaha pribumi, dan pemerintah
menyediakan kredit dan lisensi bagi usaha-usaha swasta nasional. Program ini
tidak berjalan dengan baik, karena pengusaha pribumi kurang berpengalaman,
sehingga hanya dijadikan alat untuk mendapatkan bantuan kredit dari pemerintah.
§ Pembatalan sepihak atas hasil-hasil
KMB, termasuk pembubaran Uni Indonesia-Belanda.
§ Akibatnya banyak pengusaha Belanda
yang menjual perusahaannya sedangkan pengusaha-pengusaha pribumi belum bisa
mengambil alih perusahaan-perusahaan tersebut.
Sebagai
akibat dari dekrit presiden 5 Juli 1959, maka Indonesia menjalankan sistem
demokrasi terpimpin dan struktur ekonomi Indonesia menjurus pada sistem
etatisme (segala-galanya diatur oleh pemerintah). Dengan sistem ini, diharapkan
akan membawa pada kemakmuran bersama dan persamaan dalam sosial, politik,dan
ekonomi (Mazhab Sosialisme). Akan tetapi, kebijakan-kebijakan ekonomi yang
diambil pemerintah di masa ini belum mampu memperbaiki keadaan ekonomi
Indonesia, antara lain :
§ Devaluasi yang diumumkan pada 25
Agustus 1959 menurunkan nilai uang sebagai berikut :Uang kertas pecahan Rp 500
menjadi Rp 50, uang kertas pecahan Rp 1000 menjadi Rp 100, dan semua simpanan
di bank yang melebihi 25.000 dibekukan.
§ Pembentukan Deklarasi Ekonomi (Dekon)
untuk mencapai tahap ekonomi sosialis Indonesia dengan cara terpimpin. Dalam
pelaksanaannya justru mengakibatkan stagnasi bagi perekonomian Indonesia.
Bahkan pada 1961-1962 harga barang-baranga naik 400%.
§ Devaluasi yang dilakukan pada 13
Desember 1965 menjadikan uang senilai Rp 1000 menjadi Rp 1. Sehingga uang
rupiah baru mestinya dihargai 1000 kali lipat uang rupiah lama, tapi di
masyarakat uang rupiah baru hanya dihargai 10 kali lipat lebih tinggi. Maka
tindakan pemerintah untuk menekan angka inflasi ini malah meningkatkan angka
inflasi.
Kegagalan-kegagalan
dalam berbagai tindakan moneter itu diperparah karena pemerintah tidak
menghemat pengeluaran-pengeluarannya. Pada masa ini banyak proyek-proyek
mercusuar yang dilaksanakan pemerintah, dan juga sebagai akibat politik
konfrontasi dengan Malaysia dan negara-negara Barat. Sekali lagi, ini juga
salahsatu konsekuensi dari pilihan menggunakan sistem demokrasi terpimpin yang
bisa diartikan bahwa Indonesia berkiblat ke Timur (sosialis) baik dalam
politik, ekonomi, maupun bidang-bidang lain.
Pada
awal orde baru, stabilisasi ekonomi dan stabilisasi politik menjadi prioritasutama.
Program pemerintah berorientasi pada usaha pengendalian inflasi, penyelamatan
keuangan negara dan pengamanan kebutuhan pokok rakyat. Pengendalian inflasi
mutlak dibutuhkan, karena pada awal 1966 tingkat inflasi kurang lebih 650 % per
tahun.
Setelah melihat pengalaman masa
lalu, dimana dalam sistem ekonomi liberal ternyata pengusaha pribumi kalah
bersaing dengan pengusaha nonpribumi dan sistem etatisme tidak memperbaiki
keadaan, maka dipilihlah sistem ekonomi campuran dalam kerangka sistem ekonomi
demokrasi pancasila. Ini merupakan praktek dari salahsatu teori Keynes tentang
campur tangan pemerintah dalam perekonomian secara terbatas. Jadi, dalam
kondisi-kondisi dan masalah-masalah tertentu, pasar tidak dibiarkan menentukan
sendiri.
Kebijakan ekonominya diarahkan pada pembangunan di segala bidang, tercermin dalam 8 jalur pemerataan : kebutuhan pokok, pendidikan dan kesehatan, pembagian pendapatan, kesempatan kerja, kesempatan berusaha, partisipasi wanita dan generasi muda, penyebaran pembangunan, dan peradilan. Semua itu dilakukan dengan pelaksanaan pola umum pembangunan jangka panjang (25-30 tahun) secara periodik lima tahunan yang disebut Pelita (Pembangunan lima tahun).
Hasilnya, pada tahun 1984 Indonesia berhasil swasembada beras, penurunan angka kemiskinan, perbaikan indikator kesejahteraan rakyat seperti angka partisipasi pendidikan dan penurunan angka kematian bayi, dan industrialisasi yang meningkat pesat. Pemerintah juga berhasil menggalakkan preventive checks untuk menekan jumlah kelahiran lewat KB dan pengaturan usia minimum orang yang akan menikah.
Namun dampak negatifnya adalah kerusakan serta pencemaran lingkungan hidup dan sumber-sumber daya alam, perbedaan ekonomi antar daerah, antar golongan pekerjaan dan antar kelompok dalam masyarakat terasa semakin tajam, serta penumpukan utang luar negeri. Disamping itu, pembangunan menimbulkan konglomerasi dan bisnis yang sarat korupsi, kolusi dan nepotisme. Pembangunan hanya mengutamakan pertumbuhan ekonomi tanpa diimbangi kehidupan politik, ekonomi, dan sosial yang adil. Sehingga meskipun berhasil meningkatkan pertumbuhan ekonomi, tapi secara fundamental pembangunan nasional sangat rapuh. Akibatnya, ketika terjadi krisis yang merupakan imbas dari ekonomi global, Indonesia merasakan dampak yang paling buruk. Harga-harga meningkat secara drastis, nilai tukar rupiah melemah dengan cepat, dan menimbulkan berbagai kekacauan di segala bidang, terutama ekonomi.
Kebijakan ekonominya diarahkan pada pembangunan di segala bidang, tercermin dalam 8 jalur pemerataan : kebutuhan pokok, pendidikan dan kesehatan, pembagian pendapatan, kesempatan kerja, kesempatan berusaha, partisipasi wanita dan generasi muda, penyebaran pembangunan, dan peradilan. Semua itu dilakukan dengan pelaksanaan pola umum pembangunan jangka panjang (25-30 tahun) secara periodik lima tahunan yang disebut Pelita (Pembangunan lima tahun).
Hasilnya, pada tahun 1984 Indonesia berhasil swasembada beras, penurunan angka kemiskinan, perbaikan indikator kesejahteraan rakyat seperti angka partisipasi pendidikan dan penurunan angka kematian bayi, dan industrialisasi yang meningkat pesat. Pemerintah juga berhasil menggalakkan preventive checks untuk menekan jumlah kelahiran lewat KB dan pengaturan usia minimum orang yang akan menikah.
Namun dampak negatifnya adalah kerusakan serta pencemaran lingkungan hidup dan sumber-sumber daya alam, perbedaan ekonomi antar daerah, antar golongan pekerjaan dan antar kelompok dalam masyarakat terasa semakin tajam, serta penumpukan utang luar negeri. Disamping itu, pembangunan menimbulkan konglomerasi dan bisnis yang sarat korupsi, kolusi dan nepotisme. Pembangunan hanya mengutamakan pertumbuhan ekonomi tanpa diimbangi kehidupan politik, ekonomi, dan sosial yang adil. Sehingga meskipun berhasil meningkatkan pertumbuhan ekonomi, tapi secara fundamental pembangunan nasional sangat rapuh. Akibatnya, ketika terjadi krisis yang merupakan imbas dari ekonomi global, Indonesia merasakan dampak yang paling buruk. Harga-harga meningkat secara drastis, nilai tukar rupiah melemah dengan cepat, dan menimbulkan berbagai kekacauan di segala bidang, terutama ekonomi.
Masa transisi reformasi (era
BJ.Habibie)
Krisis
ekonomi mempunyai dampak yang sangat memprihatinkan terhadap peningkatan
pengangguran, baik di perkotaan maupun di pedesaan, daya beli masyarakat
menurun, pendidikan dan kesehatan merosot serta jumlah penduduk miskin
bertambah oleh karena itu muncul kebijakan Jaring Pengaman Sosial (social
safety net). Yang menyebabkan suatu prestasi yang mengagumkan yakni nilai tukar
rupiah dari 16.000 menjadi 6.000 rupiah.
Terjadi
banyak keanehan dan tidak terdapat kebijakan perekonomian.Pada masa Gus Dur,
rating kredit Indonesia mengalami fluktuasi, dari peringkat CCC turun menjadi
DDD lalu naik kembali ke CCC. Salah satu penyebab utamanya adalah imbas dari
krisis moneter pada 1998 yang masih terbawa hingga pemerintahannya.
C. Era Reformasi
Era reformasi dimulai ketika orde
baru berakhir. B. J. Habibie yang mengawali masa reformasi membuat kebijakan
yang diutamakan untuk mengendalikan stabilitas politik. Pada masa kepemimpinan
presiden Abdurrahman Wahid pun, belum ada tindakan yang cukup berarti untuk
menyelamatkan negara dari keterpurukan. Padahal berbagai persoalan ekonomi yang
diwariskan orde baru harus dihadapi, antara lain masalah KKN, pemulihan
ekonomi, kinerja BUMN, pengendalian inflasi, dan mempertahankan kurs rupiah. Pemerintahan
dilanjutkan oleh Megawati Soekarnoputri yang mengalami masalah-masalah mendesak
untuk dipecahkan, yaitu pemulihan ekonomi dan penegakan hukum. Pada masa
kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono, terdapat kebijakan kontroversial, yaitu
mengurangi subsidi BBM dan Bantuan Langung Tunai (BLT). Kebijakan untuk
meningkatkan pendapatan perkapita ditempuh dengan cara mengandalkan pembangunan
infrastruktur massal untuk mendorong pertumbuhan ekonomi serta mengundang
investor asing dengan janji memperbaiki iklim investasi.
Pada masa reformasi perekonomian
Indonesia berangsur membaik, harga-harga barang pokok juga kembali normal.
Perkembangan di era Reformasi ini merupakan suatu bentuk perbaikan di
segala bidang sehingga belum menemukan suatu arah yang jelas. Setidaknya
reformasi telah membawa Indonesia untuk menjadi lebih baik dalam merubah
nasibnya tanpa harus semakin terjerumus dalam kebobrokan moral manusia-manusia
sebelumnya. Dan pada saat ini memang Indonesia sudah mulai berorientasi ke luar
dalam hal menjalin kerjasama dengan dunia luar di bidang ekonomi. Memang pada
kenyataannya, apabila Indonesia menerapkan pembangunan dalam bidang ekonomi
yang berorientasi ke luar, hal tersebut bias merubah tatanan baru dan
menciptakan stabilitas perekonomian di Indonesia, walaupun tidak sepenuhnya
stabil dalam aspek-aspek lainnya.
Bab 3
PDB
Pertumbuhan & Perubahan Struktur Ekonomi
3.1
Produk Domestik Bruto (PDB)
PDB diartikan sebagai nilai
keseluruhan semua barang dan jasa yang diproduksi di dalam wilayah tersebut
dalam jangka waktu tertentu (biasanya per tahun). PDB berbeda dari produk
nasional bruto karena memasukkan pendapatan faktor produksi dari luar negeri
yang bekerja di negara tersebut. Sehingga PDB hanya menghitung total produksi
dari suatu negara tanpa memperhitungkan apakah produksi itu dilakukan dengan
memakai faktor produksi dalam negeri atau tidak. Sebaliknya, PNB memperhatikan
asal usul faktor produksi yang digunakan.
PDB Nominal (atau disebut PDB Atas Dasar Harga Berlaku) merujuk kepada nilai PDB tanpa memperhatikan pengaruh harga. Sedangkan PDB riil (atau disebut PDB Atas Dasar Harga Konstan) mengoreksi angka PDB nominal dengan memasukkan pengaruh dari harga.
Analisa Mekanisme (kinerja) Ekonomi Nasional berdasar PDB melalui 3 pendekatan,yaitu
PDB Nominal (atau disebut PDB Atas Dasar Harga Berlaku) merujuk kepada nilai PDB tanpa memperhatikan pengaruh harga. Sedangkan PDB riil (atau disebut PDB Atas Dasar Harga Konstan) mengoreksi angka PDB nominal dengan memasukkan pengaruh dari harga.
Analisa Mekanisme (kinerja) Ekonomi Nasional berdasar PDB melalui 3 pendekatan,yaitu
1.Pendekatan Produksi
Pendekatan produksi diperoleh dengan cara
menjumlahkan nilai tambah (value added) dari semua sektor produksi. Lalu,
besarnya nilai produksi diperoleh dari mana ? Besarnya nilai produksi
(angka-angka PDB) diperoleh dari :
·
nilai
tambah (value added) dari berbagai jenis barang & jasa ! yaitu sesuai
dengan ISIC (International Standard Industrial Classification)
·
sektor
industri dapat diklasifikasikan menjadi 11 sektor industri, yg biasanya terbagi
mjd 3 kelompok besar :
a) Sektor Primer
b) .Sektor Sekunder
c) Sektor Tersier
Besarnya ‘value added’
tiap sektor, yi : VAs = OPs – Ips
Sedangkan
nilai PDB-nya diperoleh dengan : PDB = VAsp + VAss + Vast
2. Pendekatan Pengeluaran/Pembelanjaan
Perhitungan dilakukan dengan cara menjumlahkan permintaan
akhir dari unit/komponen2 ekonomi, yaitu:
·
Konsumsi
Rumah Tangga (RT)=C
·
Perusahaan,
berupa investasi/pembentukan modal bruto =I
·
Pengeluaran
Pemerintah (konsumsi/belanja pemerintah) =G
Expor – Impor =( X – M )
·
Dalam
Keseimbangan Perekonomian Nasional, sering di formulasikan dalam persamaan sbb:
PDB = C + I + G + ( X – M)
3.Pendekatan Pendapatan
diperoleh
dengan cara menghitung jumlah balas jasa bruto (blm dipotong pajak) / hasil
dari faktor produksi yang digunakan
PDB = sewa + upah + bunga + laba
Di
mana sewa adalah pendapatan pemilik faktor produksi tetap seperti tanah, upah
untuk tenaga kerja, bunga untuk pemilik modal, dan laba untuk pengusaha.
Secara teori, PDB dengan pendekatan pengeluaran dan pendapatan harus menghasilkan angka yang sama. Namun karena dalam praktek menghitung PDB dengan pendekatan pendapatan sulit dilakukan, maka yang sering digunakan adalah dengan pendekatan pengeluaran.
Secara teori, PDB dengan pendekatan pengeluaran dan pendapatan harus menghasilkan angka yang sama. Namun karena dalam praktek menghitung PDB dengan pendekatan pendapatan sulit dilakukan, maka yang sering digunakan adalah dengan pendekatan pengeluaran.
3.2 Pertumbuhan dan Struktur Ekonomi
A.
PERTUMBUHAN EKONOMI
1. Arti Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan
berkelanjutan merupakan kondisi utama bagi kelangsungan pembangunan ekonomi dan
peningkatan kesejahteraan. Karena jumlah penduduk bertambah setiap tahun dengan
sendirinya kebutuhan konsumsi bertambah juga setiap tahun, maka dituhkan
penambahan pendapatan setiap tahu. Selain itu permintaan, penawaran dan
pertumbuhan peduduk juga membutuhkan pertumbuhan kesempatan kerja (sumber
pendapatan), sebab jika tidak bergitu maka pertumbuahn ekonomi akan menyababkan
kemiskinan.Pemenuhan kebutuhan konsumsi dan kesempatan kerja hanya dapat
dicapai dengan peningkatan output barang dan jasa.
2. Konsep Pendapat Nasional
Ada dua arti dari PN, arti sempit, PN
adalah PN. Sedangkan arti luas PN dapat merujuk ke PDB atau ke PNB serta ke PNN
(Produk Nasional Neto). Hubungan
PDB dan PN sebagai berikut :
· PNB = PDB+F
· PNN = PNB-D
· PN =
PNN-Ttl
Ket
: F
= Pendapatan neto atas faktor luar negeri;
D = Penyusutan;
Ttl = Pajak tak langsung neto.
Jika
persamaan tersebut digabungkan akan didapat persamaan sbb:
1. PDB = PN+Ttl+D-F atau PN = PDB+F-D-Ttl
2. PDB dapat diukur dengan 3 macam
pendekatan.:
a) Pendekatan Penawaran dengan rumus PDB = ∑ NOi.
Ket : i = 1,2,3...9
Ket : i = 1,2,3...9
b) Pendekatan Pendapatan dengan rumus PDB = NTB1+NTB2+.......NTB9
Ket : NTB (Nilai Tambah Bruto)
Ket : NTB (Nilai Tambah Bruto)
c) Pendapatan Pengeluaran dengan rumus
PDB = C+I+G+X-M
Ket: Pengeruaran konsumsi rumah tangga (C), Pembentukan modal tetap domestik bruto, termasuk perubahan stok (I) ,Pengeluaran konsumsi pemerintah (G), Ekspor (X), Impor (M).
Ket: Pengeruaran konsumsi rumah tangga (C), Pembentukan modal tetap domestik bruto, termasuk perubahan stok (I) ,Pengeluaran konsumsi pemerintah (G), Ekspor (X), Impor (M).
3. Sumber-Sumber Pertumbuhan
Pertumbuhan ekonomi dapat bersumber dari
pertumbuahan pada sisi permintaan agregat (AD) dan sisi penawaran agregat (AS).
a) Sisi Permintaan Agregat
Dari sisi AD, pergeseran kurvanya ke
kanan yang mencerminkan permintaan di dalam ekonomi bisa terjadi karena PN,
terdir dari permintaan masyarakat, perusahaan dan pemerintah, meningkat. Sisi
AD di dalam suatu ekonomi digambarkan dalam model ekonomi makro sederhana sbb:
Y= C+I+G+X-M (2.8)
C= cY+Ca (2.9)
I = -ir+Ia (2.10)
G =Ga (2.11)
X = Xa (2.12)
M = mY+Ma (2.13)
Ket
:
Persamaan (2.8) menggambarkan
keseimbangan AS (total output/PDB) dan AD Persamaan (2.9) besarnya konsumsi
rumah tangga yang ditentuakan oleh tingkat pendapatan. c = koefisien konsumsi
dengan niali positif antara 0 dan 1 , artinya semakin tinggi pendapatan,
semakin tinggi pula pengeluaran. Persamaan (2.10) nilai atau jumlah investasi
sangat ditentukan oleh tingakat suku bunga (i) di dalam negeri, semakin mahal
biaya investasi, semakin kecil jumlah infestasi. r = koefisien. Persamaan
(2.11) pengeluaran pemerintah yang siffatnya otonom, besar kecilnya pengeluaran
pemeritah ditentukan oleh faktor antara lain faktor politik di luar modal
tersebut. Persamaan (2.12) pertumbuhan indonesia sangat ditentukan
faktor-faktor eksternal, seperti permintaan di negara-negara ekspor. (2.13)
impor ditentukan oleh tingkat pendapatan di dalam negeri, semakin tinggi
pendapatan maka semakin bear permintaan pasar dalam negeri terhadapt impor yang
terdiari dari barang dan jasa.
b) Sisi Penawaran Agregat
Dari sisi AS, pertumbuhan output bisa
disebabkan oleh peningkatan valume dari faktor-faktor produksi yang digunakan,
seperti Tenaga kerja (L), modal (K) dan tanah (Tn) serta Energi (E). Juga
dipengaruhi oleh peningkatanproduktifitas dari faktor-faktor tersebut.
Dirumuskan sbb:
Q= f (X1, X2, X3,.......................Xn)
Dimana
Q mewakili volume output dan X1, X2, X3,.......................Xn adalah valume
dari aktor-faktor produksi yang digunakan untuk menghasilkan output tersebut.
Tanda positif jika jumlah X meningkat, maka output juga meningkat.
c) Teori-Teori dan Model-Model
Pertumbuhan:
·
Teori
dan Model Pertumbuhan Neoklasik
Faktor-faktor yang dianggap sangat
berpengaruh terhadap pertumbuhan outpur adalah jumlah L dan K; juga dapat pula
keuangan atau mesin. Penambahan modal jumlah L dan K dengan asumsi
produktifitas dari masing-masing faktor produksi tersebut (productivity pasial;
PFP) atau produktifitas faktor total (TFP) tetap tidak berubah, menambah output
yang dihsilkan. Persentase oautput bisa lebih besar, lebih kecil, atau sama dibandingkan
persentase pertumbuhan jumlah dari kedua faktor produksi tersebut.
Dalam
model ini peran teknologi dan ilmu pengetahuan serta peningkatan kualitas dari
L dan infut-infut produksi lainnya terhadap pertumbuhan output dianggap
koefisien yang tetap tidak berubah.
Model neoklasik hanya melihat sumber pertumbuhannya saja, yakni kontribusi dari penambahan jumlah dari faktor-faktor produksi. Rumus, yakni T di dalam fungsi produksi Cobb Douglas :
Model neoklasik hanya melihat sumber pertumbuhannya saja, yakni kontribusi dari penambahan jumlah dari faktor-faktor produksi. Rumus, yakni T di dalam fungsi produksi Cobb Douglas :
Yt = TtKα tLβt
Dimana
Yt = tingkat produksi (output) padaperiode t; a dan b = masing-masing
produktivitas dari L dan K. Nilai sisa ini dianggap sebagai efek dari
pertumbuhan produktivitas dari K dan L secara total antara 10% hingga 50%.
·
Teori Modern dan Model Pertumbuhan
Endogen
Dalam model ini, faktor-faktor
produksi yang krusial tidak hanya L dan K, tapi juga perubahan T (yang
terkandung di dalam barang modal atau mesin), E, kewirausahan (Kw), bahan baku
(BB) dan material (Mt). Selain itu juga yang berpengaruh lainnya adalah ketersediaan
dan kondisi infrastruktur, hukum serta peraturan, stabilitas politik, kebijakan
pemerintah, birokrasi dan dasar tukar internasional. Di model modern ini
kualitas lebih di penting dari pada kuantitas. Salah satu asumsi penting dari
teori ini adalah keberadaan sifat T yang tidak lagi eksogen, tapi merupakan
salah satu faktor produksi yang dinamis. Begitu juga faktor L yang besa
berkembang mengikuti perkembangan T dan ilmu pengetahuan.
·
Pertumbuhan
TFP
Pack dan Page (1994) menyatakan bahwa terdapat
dua sumber utama pertumbuhan, yakni pertumbuhna yang bersumber dari peningkatan
I (invesment-driven growth) dan pertumbuhan yang didorong oleh peningkatan
produktivitas. Pertumbuhan tersebut terjadi akibat meningkatnya pemakiaan
faktor produksi, khususnya K (penambahan mesin). Sedang sedang sumber kedua
disebabkan oleh meningkatnya produktivitas dari faktor produksi, yang
mencerminkan antara lain progres T.
Rumus
TFP (Total semua Input) : Ln Yt = Ln Tt
+α Ln Kt + β Ln Lt .
B. PERUBAHAN STRUKTUR EKONOMI
Istilah Kuznets, perubahan struktur
ekonomi disebut transpormasi struktural, artinya rangkaian perubahan yang
saling terkait satu dengan yang lainnya dalam komposisi AD, perdagangan luar
negeri (ekspor dan impor), AS (produksi dan penggunaan faktor produksi yang
diperlukan guna mendukung pembangunan dan pertumbuhan ekonomi yang
berkelanjutan (Chenery, 1979).
1. Teori dan Bukti
Empiris
Teori
perubahan struktural menitikberatkan pembahasan pada mekanisme transpormasi
ekonomi yang ditandai oleh LDCs, yang semula lebih bersifat subsistence dan
menitikberatkan pada sektor pertanian menuju ke struktur perekonomian yang
lebih modern, yang didominasi oleh sektor-sektor nonprimer. Ada 2 teori yang
umum digunakan dalam penganalisis perubahan struktur ekonomi.
a.
Teori Migrasi (Arthus Lewis) : bahwa Ekonomi suatu negara pada dasarnya terbagi
menjadi 2 yaitu: Perekonomian Tradisional dipedesaan yang didominasi oleh
sektor pertanian Perekonomian Modern diperkotaan dengan industri sebagai sektor
utama. Di pedesaan karena pertumbuhan penduduknay tinttgi, maka terjadi
kelebihan L dan tingkat hidup masyarakat berada pada kondisi subsistence.
Kelebihan L ini ditandai dengan produk marjinalnya yang nilainya nol dan
tingkat upah riil (w) yang rendah. Rumus ini juga berlaku bagi perekonomian Modern.Rumusnya
:
LPD = Fd(WP’ YP) (2,25)
LPS = Fs(wp) (2,26)
LPD = LPD = LP (2,27)
Persamaan (2,25), permintaan L
(LPD) yang merupakan suatu fungsi negatif dari tingkat upah (wp) (Fd’wp>0)
dan positif dari volume produksi pertanian (Yp) (Fd’Yp>0). Persamaan (2,26)
, penawaran L (LPS) yang merupakan suatu fungsi positif dari tengkat upah
(Fw’wp). Sedang persamaan (2,27) mencermintakn keseimbangan di pasar L, yang
menghasilkan tingkat w (W setelah dikoreksi dengan inflasi) dan jumlah L
tertentu.
b. Teori Transpormasi struktural (Hollis Chenery)
Teori ini mempokuskan pada perubahan struktur dalam tahapan proses perubahan ekonomi di LDCs, yang mengalami transportasi dari pertanian tradisional ke sektor industri sebagai mesin utama penggerak pertumbuhan ekonomi.
Perubahan struktur ekonomi berbarengan dengan pertumbuhan PDB yang merupakan total pertumbuhan NT dari semua sektor ekonomi dapat dijelaskan dengan industri dan pertanian NTB masing-masing, yakni NTBi dan NTBp yang membentuk PDB :
b. Teori Transpormasi struktural (Hollis Chenery)
Teori ini mempokuskan pada perubahan struktur dalam tahapan proses perubahan ekonomi di LDCs, yang mengalami transportasi dari pertanian tradisional ke sektor industri sebagai mesin utama penggerak pertumbuhan ekonomi.
Perubahan struktur ekonomi berbarengan dengan pertumbuhan PDB yang merupakan total pertumbuhan NT dari semua sektor ekonomi dapat dijelaskan dengan industri dan pertanian NTB masing-masing, yakni NTBi dan NTBp yang membentuk PDB :
PDB = NTBi + NTBp
Berdasarkan model ini, kenaikan
produksi sektor industri manufaktur dinyatakan sama besarnya dengan jumlah
empat faktor berikut :
a.
Kenaikan permintaan domestik, yang memuat permintaan langsung untuk produk
industri manufaktur plus efek tidak langsung dari kenaikan permintaan domestik
untuk produk sektor-sektor lainnya terhadap industri manufaktur.
b.
Perluasan ekspor atau efek ttal dari kanaikan jumlah ekspor terhadap produk
idustri manufaktur.
c. Substitusi imfor atau efek total dari kenaikan proporsi permintaan di tiap sektor yang dipenuhi lewat produksi domestik terhadap output industri manufaktur.
d. Perubahan teknologi, atau efek total dari perubahan koefisien infut-outfut di dalam perekonomian akibat kenaikan upah dan tingkat pendapatan terhadap sektor industri manufaktur.
c. Substitusi imfor atau efek total dari kenaikan proporsi permintaan di tiap sektor yang dipenuhi lewat produksi domestik terhadap output industri manufaktur.
d. Perubahan teknologi, atau efek total dari perubahan koefisien infut-outfut di dalam perekonomian akibat kenaikan upah dan tingkat pendapatan terhadap sektor industri manufaktur.
Faktor-faktor internal yang membedalakn kelompok LDCs yang mengalami transisi ekonomi yang sangat pesat adalah
a. Kondisi dan struktur awal ekonomi dalam
negeri
b.
Besarnya pasar dalam negeri
c.
Pola distribusi pendapatan
d.
Karakteristik dari industrialisasi
e.
Keberadaan SDA
f.
Kebijakan perdagangan luar negeri
2. Kasus Indonesia
Kalau dilihah dari Orde Baru hingga
sekarang, dapat dikatakan bahwa proses perubahan struktur ekonomi Indonesia
cukup pesat. Data BPS menunjukan bahwa tahun 1970, NTB dari sektor pertanian
menyumbang sekitar 45% terhadap pembentukan PDB, dan pada dekade 1990-an hanya
tinggal sekitar 16% hingga 20%.
3.3
FAKTOR-FAKTOR PENENTU PROSPEK PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA
1) Faktor-Faktor Internal
Faktor-faktor tersebut diantaranya,
kondisi perbankan realisasi RAPBN 2003, terutama yang menyangkut beban
pembayaran bunga utang pemerintah dan pengeluaran stimulus pasca tragedi Bali,
hasil pertemuan CGI yang sempat ditunda akibat tragedi Bali, kebijakan ekonomi
pemerintah terutama dalam bidang fiskal dan moneter, serta perkembangan ekspor
nasional. Kesiapan dunia usaha Indonesia dalam menghadapi AFTA 2003 juga akan
berpengaruh terhadap prospek pertumbuhan ekonomi nasional lewat pengaruhnya
terhadap prospek perkembangan neraca perdagangan yang berarti saldo transaksi
berjalan.
2) Faktor-Faktor Eksternal
Faktornya diantaranya adalah prospek
perekonomian dan perdagangan dunia 2003, kondisi politik global, terutama
efek-efek dari perang AS-Irak dan krisis senjata nuklir Korea Utara. Perang AS
dan Irak akan berdampak pada efek haraga minyak dan penurunan ekspor serta
penundaan pengiriman TKI ke wilayah Timur Tengah, sedang efek dari kore Utara,
jika terjadi perang besar-besaran jelas akan mengganggu arus perdagangan dan
investasi di Asia Tenggara dan Timur khusunya dan dunia pada umumnya.
DAFTAR
PUSTAKA







0 komentar:
Posting Komentar